Pray For Mamuju : Akses Jalan Sudah Mulai Pulih Pasca Gempa No ratings yet.

Please rate this

Beritaupdate.id, Mamuju – Ribuan pengungsi dari dua kecamatan di Kabupaten Majene dilaporkan mulai mengalami kesulitan makanan lantaran daerah mereka terisolir pascagempa berkekuatan magnitudo 6,2, Jumat (15/01). Namun, BNPB mengatakan akses jalan ke Kabupaten Mamuju sudah bisa dilalui kendaraan setelah tertimbun bebatuan karena gempa. Sementara itu, proses evakuasi korban yang diyakini masih berada di bawah reruntuhan di Mamuju masih terus dilakukan.

Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan akses jalan poros Mamuju-Majene sudah bisa dilalui kendaraan.




“Selain itu, ada beberapa titik longsor di Kabupaten Majene adalah longsor tiga titik di sepanjang jalan poros Majene-Mamuju, akses jalan sudah bisa dilalui kendaraan,” kata juru bicara BNPB, Raditya Jati dalam keterangan kepada wartawan, Sabtu (16/01).

BNPB mencatat sejauh ini, total yang meninggal akibat gempa pada Jumat (15/01) lalu sebanyak 46 orang. Masing-masing di Kabupaten Majene sebanyak 9 orang, dan Kabupaten Mamuju 37 orang. Sementara total korban luka mencapai 826 jiwa.

Sejak Sabtu (16/01) pagi, BNPB telah menetapkan status tanggap darurat di tingkat provinsi Sulawesi Barat. BPNB telah menyerahkan bantuan sebesar Rp4 miliar kepada pemerintah daerah.

“Rp2 miliar untuk provinsi, dan Rp1 miliar untuk masing-masing Kabupaten Majene dan Mamuju,” kata Raditya.

Kecamatan Malunda merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak parah akibat gempa bumi di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Malunda berada di dekat episentrum gempa bumi bermagnitudo 6,2, pada Jumat (15/01) dini hari. Saat ini hampir sebagian masyarakat di 12 desa/kelurahan di Kecamatan Malunda telah mengungsi. Rumah penduduk ambruk dan warga trauma hingga terpaksa mengevakuasi diri ke dataran lebih tinggi.

Kepala Desa Maliaya di Kecamatan Malunda, Masri, mengatakan gempa telah menewaskan seorang warganya dan memporak-porandakan sejumlah rumah. Kata Masri, 1.600 warga dari enam dusun di Desa Maliaya kini mengevakuasi diri ke tempat ketinggian. Warga mengungsi ke perbukitan di belakang pemukiman dan mendirikan tenda darurat.

Perkampungan kini dikosongkan, hanya beberapa warga yang turun bergantian memantau kondisi pemukiman.

Akan tetapi, lanjut Masri, berbagai masalah kini muncul di lokasi pengungsian. Warga mulai kekurangan bahan makanan. Persediaan yang dibawa sudah menipis.

Menurut Masri, warga sangat membutuhkan makanan berupa beras, telur, mie instan dan air minum. Mereka juga memerlukan susu bayi serta popok untuk anak dan lansia.

Selain bahan makan, sejumlah warga juga masih membutuhkan tenda dan tikar. Beberapa orang terpaksa harus berteduh di kandang ayam atau menumpang di tenda warga lainnya.

“Ada yang tinggal di bawah kolong kandang ayam, kalau malam kita arahkan ke tenda karena kita khawatirkan jangan sampai ada gempa susulan kemudian itu kandang yang roboh,” ungkapnya.

Ribuan warga mengungsi setelah gempa dengan magnitudo 6,2 mengguncang dengan puluhan kali gempa susulan yang dikhawatirkan dapat memicu terjadinya tsunami.

Gempa merusak setidaknya lebih dari 300 rumah dan dua hotel serta meratakan rumah sakit dan kantor gubernur setempat. ( Red_srcbbc )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *