Kabid IWO SulSel Angkat Bicara Tentang Desas Desus Yang Diindikasikan Media Abal-Abal Menuai kritikan

Beritaupdate.id Makassar – Desas desus pengiringan opini terhadap sejumlah media online di Sulawesi Selatan, yang diindikasikan media abal-abal menuai kritikan dari Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulawesi Selatan.

Melalui keterangan persnya Ishadi Ishak menyebutkan, bahwa IWO sepenuhnya menghargai adanya media yang menggiring opini sejumlah media di Sulawesi Selatan terindikasi media abal-abal, padahal beberapa media yang disebutkan sudah memenuhi ketentuan berdirinya perusahaan pers.

Namun perlu diketahui bahwa media cetak, online dan elektronik bila menuju Dewan Pers juga perlu proses dan tahapan. sehingga IWO berharap media lokal tersebut, juga menghormati keberadaan media online yang telah berbadan hukum, terdaftar di Kemenkumham, punya kantor serta miliki SOP sesuai ketentuan Dinas Ketenagakerjaan, tegasnya.

Analoginya sederhana, kata Hadi, perusahaan pers ibarat bayi yang baru lahir belum tentu langsung paham tentang kata, aku, kamu, dan kita, seperti itulah perusahaan pers setelah terdaftar administrasi sesuai aturan hukum, tentunya untuk menjadi peserta Dewan Pers mesti penuhi syarat.

Ditambahkan lagi, soal jenjang karir kewartawanan, ibarat bayi yang sudah tumbuh jadi dewasa perlu disekolahkan agar paham kata baik dan benar, perusahaan pers juga mesti penuhi jenjang karir wartawan media tersebut mulai dari muda, madya, dan utama untuk menjadi bagian dari Dewan Pers.

Untuk diketahui, kata Hadi, Wartawan yang ingin melangkah ke wartawan muda, madya dan utama oleh Lembaga Pelatihan Jurnalistik diakui Dewan Pers mengenakan biaya Rp.4 juta bagi mereka yang berada di media cetak dan online sementara jurnalis tv dikabarkan berada dikisaran Rp.7.5juta, khusus bagi wartawan yang berada diorganisasi profesi semisal PWI dan AJI dimungkin ada kebijakan bisa diskon atau malah bisa gratiskan.

Sehingga perusahaan pers yang masih seumur jagung, tentunya dipandang perlu meningkatkan sumber daya manusia melalui Uji Kompetensi Wartawan bila merujuk SOP Perusahaan Pers. wartawan diperusahaan pers bisa memilih mau ikut diorganisasi pers atau tidak.

Jaman 4.0 ini, gejolak persaingan media cetak, elektronik serta media online tak terelakkan lagi sehingga beragam opini dimunculkan untuk menggiring opini pembenaran tanpa perlu menyudutkan perusahaan pers yang baru berdiri, marilah bersaing secara sehat, paparnya.

Hadi menambahkan, seolah-olah perusahaan yang berlabelkan Dewan Pers adalah Sah, padahal perusahaan yang punya badan hukum juga sah di mata hukum, lantas media abal-abal yang dimaksud seperti apa?, paparnya.

Sebenarnya yang mengusik rekan seprofesi adanya pemaknaan Media Abal-abal, dahulu ketika masih jaya-jayanya media cetak diera 80an-2000an, media “abal-abal” sangat diidentikkan pada mereka yang meliput namun tidak diketahui beritanya dimuat atau tidak dengan kata lain wartawan bodrex, di jaman 4.0 tidak lagi berlaku demikian mengingat makin maraknya warga +62 miliki akun media sosial, papar Kabid IWO Sulsel ini, Jum’at (14/2/2020).

Dipahami, jika mendirikan perusahaan pers perlu modal yang jumlahnya tidak sedikit, sehingga perusahaan pers tak bisa berdiri sendiri tanpa investor. namun kami sangat menyayangkan adanya monopoli ruang pers sehingga mencoba menutup ruang – ruang ekspresi bagi insan pers yang ingin mandiri dan punya perusahaan pers, saya rasa sejalan dengan program pemerintah yakni mewujudkan Industri 4.0, jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: