Anak Jalanan Rebusan Pembalut Demi ‘nge-fly’ No ratings yet.

Beritaupdate.id, Jakarta – Sejumlah anak jalanan ditemukan minum air rebusan pembalut untuk mendapatkan sensasi ketika mengkonsumsi narkoba. praktik yang sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir di Jawa Tengah dan Jakarta, menurut Badan Narkotika Nasional, BNN.

Motivasi awal anak jalanan minum air rebusan pembalut adalah eksperimen untuk mendapatkan sensasi yang mirip ketika mengkonsumsi narkoba, kata Hari Nugroho dari BNN.

Hari mengatakan pada awalnya mereka mengorek tempat sampah untuk mencari pembalut bekas, hingga akhirnya dapat membeli pembalut baru.

“Bisa jadi keracunan zat kimia yang ada di dalam pembalut, misal klorin yang jika dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan, efeknya seperti mabuk, dan terdapat delay (penundaan) dalam proses berpikir, sehingga mempengaruhi otak, dan akhirnya dianggap ngefly(dalam pengaruh narkoba),” kata Hari.

Minum air rebusan pembalut agar mendapatkan sensasi ‘fly’ diketahui Badan Nasional Narkotika, Jawa Tengah dilakukan oleh sejumlah remaja jalanan.

Menurut Kepala Bidang Pemberantasan BNN provinisi Jawa Tengah, AKBP Suprinarto, para remaja jalanan yang melakukan praktik itu berusia berusia 13 hingga 16 tahun.

“Kami temukan di Jawa Tengah Grobogan, Kudus, Pati, Rembang dan Kota Semarang, namun belum ada dasar hukumnya, jadi tidak bisa ditindak.” kata AKBP Suprinarto.

Menurutnya air rebusan pembalut dinilai belum termasuk kategori zat-zat berbahaya atau terlarang.  Sementara itu Dinas Kesehatan Kota Semarang masih meneliti kandungan yang diduga berbahaya di dalam air rebusan pembalut, karena risiko terjangkit virus maupun bakteri berbahaya. Dari sisi penularan penyakit, menurut Hari Nugroho dari BNN, virus dapat tertular akibat cairan tubuh terinfeksi.

“Kalau ada cairan tubuh yang terinfeksi virus dan bakteri-bakteri berbahaya, sangat mungkin tertular penyakit-penyakit lain yang ditularkan melalui cairan tubuh,” kata Hari. Tetapi sementara ini Hari menduga air rebusan tidak menyebabkan ketagihan. “Mereka punya keyakinan kalau minum, bisa nge-fly, masalah hilang, dan merasa lebih terkoneksi dengan teman-temannya,” kata Hari.

Dalam kasus-kasus serupa yang ia catat selama tiga tahun belakangan, bahwa anak jalanan tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli narkoba karena harganya lebih tinggi, sehingga mereka mencari alternatif lain dengan informasi yang didapat dari teman-teman mereka sendiri. Data dari Kementerian Sosial menyebutkan 70% dari 18.000 lebih anak dan remaja jalanan di Indonesia menjadi korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Dari angka tersebut, kebanyakan dari mereka mencari cara alternatif untuk bisa ‘nge-fly’ dengan modal minim.

Please rate this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: